30 September 2012 | By Fitriana
Assalaamu‘alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh
Menurut saya sendiri peranan bahasa indonesia pada masa sekang ini sangat penting karena, pada masa sekarang ini jarang sekali orang menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar dalam percakapan sehari-hari. Mengapa demikian,karena dapat kita lihat bagaimana penggunaan bahasa oleh muda-mudi saat ini. Banyak orang tidak terlalu memperhatikan bahasa, karena bahasa itu sendiri memang telah melekat pada diri kita sejak kita lahir, sama halnya ketika kita tidak memperhatikan saat kita bernafas. Selain itu bahasa memang difungsikan sebagai pemersatu untuk berbagai suku di Indonesia. Kini sayangnya bahasa Indonesia sekarang mulai menyimpang dari tatanan bahasa Indonesia yang baik dan benar karena telah terkontaminasi oleh bahasa asing, sehingga terbentuk suatu bahasa baru, biasanya dalam kalangan anak muda disebut sebagai bahasa “gaul” atau dikenal sebagai “Bahasanya Masa Kini” karena biasanya digunakan sebagai Candaan yang hanya dimengerti oleh kelompok mereka sendiri, Seperti contohnya adalah “Elo Gue End” Kalimat yang lagi banyak ditirukan orang ini dipopulerkan Wendy Cagur dalam tanyangan Opera Van Java. Kata-kata ini sempat jadi Trending Topic di Twitter. Selain bahasa gaul, muncul juga bahasa BBM (BlackBerry Messenger), sesuai dengan artinya maka penulisannya pun akan disingkat, contohnya adalah ia(iya),OTW(On The Way) dan masih banyak yang lainnya atau bahasa alay (anak layangan) yang bisa diartikan dengan “anak kampung”.Contohnya adalah “cemunguth(semangat),mu’uph (maaf)”. tetapi meskipun mereka menyebutnya kampungan, mulai dari kalangan anak-anak,remaja, dewasa bahkan ada juga orang tua yang menggunakannya. Tumbuh persepsi pada diri mereka bahwa jika tidak menggunakan bahasa tersebut merupakan orang yang Kamseupay (“norak” atau ketinggalan jaman). Memang perkembangan bahasa Indonesia sulit untuk dicegah karena memang bahasa Indonesia merupakan bahasa yang mudah untuk berkembang dan sebenarnya bahasa gaul juga merupakan efek dari perkembangan Bahasa Indonesia itu sendiri. Tetapi perubahan bahasa Indonesia saat ini,tidak seperti perubahan bahasa Indonesia dahulu yang memang berasal dari kata serapan akibatnya pun yang awalnya fungsi bahasa Indonesia juga sebagai jati diri bangsa, sekarang cuma sebagai ‘yang penting nyambung’ dari setiap komunikasi yang terjadi. Oleh karena itu jika kita tidak ingin kehilangan identitas dan jati diri bangsa kita, hendaknya kita mulai menjaganya dari sekarang, tentunya dengan menggunakan kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar yang telah ditetapkan.
Saya sendiri merasa bahasa Indonesia saya masih kurang memahami semestinya kita belajar lagi. Jangan karena merasa sudah menggunakan bahasa indonesia sehari-hari lantas kita otomatis pandai. Ayo kita belajar bahasa Indonesia lagi!! Bagaimana kita bisa menghargai budaya kita kalau bahasa Indonesia kita kacau belum benar!!
WABILLAHI TAUFIK WAL HIDAYAH,WASSALAMU'ALAIKUM WA RROHMATULLAHI WA BAROKAATUH
www.studentsite.gunadrama.ac.id
Pengikut
Mengenai Saya
Blogroll
About
Archives
Blogger templates
Blogger news
About Me
Blog Archive
MUSIK ONE STOP
Aku ingn mencintaimu dengan sedehana
Cintaku Sederhana dalam kesederhanaan
Cintaku tak berkobar-kobar penuh nafsu
Cintaku sederhana dalam keterbatasan
Cintaku tak menggebu-gebu laksana cinta yang semu
Bergelora di awal namun redup ditengah perjalanan
Cintaku sederhana,namun sanggup mencintimu apa adanya
Cintaku sederhana,namun mampu menyayangimu tulus
Cintaku sederhana,namun hadir saat kau terjatuh
Cintaku sederhana,namun ada saatnya kau terluka
Cintaku sederhana,namun diikat dengan kesetiaan
Cintaku sederhana,namun terukir dihati yang tulus
Cintaku penajam imanku
Cintaku penebal keyakinanku
Cintaku penawar hati dari kelelahan dunia
Cintaku sederhana, hanya mampu memberi
Enggan bersedih di kala sepi
Enggan berduka dikala hampa
Ketika seseorang tak bisa dijadikan sandaran
hanya Allah lah yang paling setia yang selalu menemaniku
dikala rasa hampa yang meggelayut dihati
Kadang aku merasa
Ingin sebuah hadirnya cinta dikala aku terbelanggu pada lamunanku
Namun aku tahu, tak sepatutnya aku menati cinta itu
Karena aku takut cinta yang akan hadir itu akan membuatku jatuh dengan yang Maha Cinta
Aku biarkan diri ini tetap pada penantian cinta karena ridho ILLAHI
Meskipun berat dirasa, aku yakin akan indah pada waktunya
Tetap sabar dan jaga diri serta hati
Dalam sebuah harapan yang sangat aku nanti
Dikala cinta itu akan bersemi di lautan bunga-bunga asmara
Diiringi lagu nan syahdu lantunan qosidah
Setelah akad nikah terucap oleh si dia
jodoh yang Allah berikan untukku
Selama kita menunggu
Sekuat mana kita setia
Sehebat mana kita merancang
Seteguh mana kita bersabar
Sejujur mana kita menerima ketentuan dar-Nya
Jika Allah telah menulis jodoh kita dengannya kita tetap akan bersama denganya
Tapi,jika takdir Allah menentukan . . . yang mana kita bukan dengan dirinya kita tidak akan bersama dengannya
Karena tulang rusuk dan pemiliknya takkan pernah tertukar
dan akan bertemu pada saat yang tepat menurut ilmu-Nya
tiada yang "keutulan" melainkan semuanya telah dirancang
dan sebaik-baiknya rancangan adalah dari Allah
Aku menyimpan rasa kepadamu
Namun cnta itu biarlah kupendam
karena cintaku kepadamu tak bisa mengalahkan cintaku kepada Allah
Biarlah cinta ini kusimpan dalam diamku
Karena aku taut Allah tak menjodohkan denganmu
ku tahu rasa kecewa akan sangat menyiksa batinku
Maka dari itu aku tak akan berani mengungkapkan
Aku beranikan diri untuk mengambl prinsip
"Aku Bisa Meski Tanpamu"
KArena ku tahu bunga-bunga cinta akan indah
ketika aku akan mengungkapkannya kelak dengan suamiku
setelah akad nikah ia ucapkan
"Betapa Bahagianya Diriku Nanti"
Teori atau Model Kontingensi
Teori atau model kontingensi (Fiedler, 1967) sering disebut teori situasional karena teori ini mengemukakan kepemimpinan yang tergantung pada situasi. Model atau teori kontingensi Fiedler melihat bahwa kelompok efektif tergantung pada kecocokan antara gaya pemimpin yang berinteraksi dengan subordinatnya sehingga situasi menjadi pengendali dan berpengaruh terhadap pemimpin.
Bagi banyak pemimpin dalam suatu organisasi maupun pemimpin dalam bidang pekerjaan, sering mengalami kesulitan dalam menyampaikan pesan kepada bawahan; ataupun menangkap kesan bawahan anda. Kita pun mengetahui rasa hormat dan kepatuhan kepada atasan itu hanya dilakukan apabila kita menerapkan peraturan yang ketat dalam organisasi tersebut.
Padahal sebagai pemimpin sangat mendambakan bawahan berdedikasi tinggi terhadap perusahaan; dan mengetahui semua posisi tugas dari masing – masing bagian. Maka dalam hal ini pimpimpin dituntut bersifat apresiatif, terbuka, bertanggung jawab, dan melakukan pendekatan yang baik pada karyawan. Sehingga prestasi kerja karyawan dapat meningkat dan perusahan pun berkembang.
Teori atau model Vroom&Yetton
Teori kepemimpinan Vroom&Yetton ini merupakan salah satu teori contingency. Teori ini dikembangkan oleh Vroom & Yetton (1973) dan disebut juga sebagai model normatif tentang kepemimpinan, karena mengarah kepada pemberian suatu rekomendasi tentang gaya kepemimpinan yang sebaiknya digunakan dalam situasi tertentu, yang berfokus pada tingkat partisipasi yang diperbolehkan oleh pemimpin dalam pengambilan keputusan dan seleksi pendekatan yang akan memaksimalkan manfaat yang akan didapat kelompok dan pada waktu yang bersamaan, meminimalisasi gangguan pencapaian tujuan kelompok. Model yang menjelaskan bagaimana seorang pemimpin harus memimpin dalam berbagai situasi. Model ini menunjukan bahwa tidak ada corak kepemimpinan tunggal yg dapat diterapkan pada semua situasi.
Pada hakikatnya, model ini dapat digunakan sebagai alat untuk:
a. Membantu mengenali berbagai jenis situasi pemecahan persoalan secara berkelompok (group problem-solving situations)
b. Menyarankan gaya-gaya kepemimpinan mana yang dianggap layak untuk setiap situasi. Ada tiga parameter yang penting yaitu: (1) klasifikasi gaya kepemimpinan; (2) kriteria efektivitas keputusan; (3) kriteria penemukenalan jenis situasi pemecahan persoalan.
Lima pola umum Gaya Kepemimpinan dalam Pengambilan Keputusan (Vroom & Yetton, 1973) :
1. Autocratic I: membuat keputusan dengan menggunakan informasi yang saat ini terdapat pada pemimpin.
2. Autocratic II: membuat keputusan dengan menggunakan informasi yang terdapat pada seluruh anggota kelompok tanpa terlebih dahulu menginformasikan tujuan dari penyampaian informasi yang mereka berikan.
3. Consultative I: berbagi akan masalah yang ada dengan individu yang relevan, mengetahui ide-ide dan saran mereka tanpa melibatkan mereka ke dalam kelompok; lalu membuat keputusan.
4. Consultative II: berbagi masalah dengan kelompok, mendapatkan ide-ide dan saran mereka saat diskusi kelompok berlangsung, dan kemudian membuat keputusan.
5. Group II: berbagi masalah yang ada dengan kelompok, mengepalai diskusi kelompok, serta menerima dan menerapkan keputusan apapun yang dibuat oleh kelompok
Teori atau model Path Goal
Menurut teori path-goal, suatu perilaku pemimpin dapat diterima oleh bawahan pada tingkatan yang ditinjau oleh mereka sebagai sebuah sumber kepuasan saat itu atau masa mendatang. Perilaku pemimpin akan memberikan motivasi sepanjang (1) membuat bawahan merasa butuh kepuasan dalam pencapaian kinerja yang efektif, dan (2) menyediakan ajaran, arahan, dukungan dan penghargaan yang diperlukan dalam kinerja efektif (Robins, 2002). Untuk pengujian pernyataan ini, Robert House mengenali empat perilaku pemimpin. Pemimpin yang berkarakter directive-leader, supportive leader, participative leader dan achievement-oriented leader. Berlawanan dengan pandangan Fiedler tentang perilaku pemimpin, House berasumsi bahwa pemimpin itu bersifat fleksibel. Teori path-goal mengimplikasikan bahwa pemimpin yang sama mampu menjalankan beberapa atau keseluruhan perilaku yang bergantung pada situasi (Robins, 2002).
Model kepemimpinan path-goal berusaha meramalkan efektivitas kepemimpinan dalam berbagai situasi. Menurut model ini, pemimpin menjadi efektif karena pengaruh motivasi mereka yang positif, kemampuan untuk melaksanakan, dan kepuasan pengikutnya. Teorinya disebut sebagai path-goal karena memfokuskan pada bagaimana pimpinan mempengaruhi persepsi pengikutnya pada tujuan kerja, tujuan pengembangan diri, dan jalan untuk menggapai tujuan.
Model path-goal menjelaskan bagaimana seorang pimpinan dapat memudahkan bawahan melaksanakan tugas dengan menunjukkan bagaimana prestasi mereka dapat digunakan sebagai alat mencapai hasil yang mereka inginkan. Teori Pengharapan (Expectancy Theory) menjelaskan bagaimana sikap dan perilaku individu dipengaruhi oleh hubungan antara usaha dan prestasi (path-goal) dengan valensi dari hasil (goal attractiveness). Individu akan memperoleh kepuasan dan produktif ketika melihat adanya hubungan kuat antara usaha dan prestasi yang mereka lakukan dengan hasil yang mereka capai dengan nilai tinggi. Model path-goal juga mengatakan bahwa pimpinan yang paling efektif adalah mereka yang membantu bawahan mengikuti cara untuk mencapai hasil yang bernilai tinggi.
Contoh Kasus
Gugatan itu muncul menyusul rencana Facebook untuk melakukan ‘go publik’. Masalah hak paten biasa terjadi antara pembuat smartphone, tetapi ini untuk pertama kalinya masalah ini diributkan oleh YAHOO melayangkan gugatan atas kekayaan intelektual terhadap Facebook. Yahoo mengklaim jejaring sosial itu telah melanggar 10 hak patennya termasuk sistem dan metode untuk iklan di situs. Facebook membantah kedua ‘raksasa’ internet.
Dalam sebuah pernyataan dari Yahoo menyebutkan bahwa ini adalah kasus yang besar. “Paten Yahoo berkaitan dengan inovasi dalam produk online, termasuk layanan pesan, generasi berita berbayar, komentar sosial dan tampilan iklan, mencegah penipuan dan kontrol terhadap kerahasiaan,” seperti disebutkan dalam gugatan itu.
“Model jejaring sosial Facebook, yang mengizinkan pengguna untuk menciptakan profil dan terhubung dengan, diantara hal yang lain, seseorang atau bisnis, itu berbasis pada paten teknologi jeraring sosial yang dimiliki Yahoo.
Jejaring sosial mengisyaratkan bahwa Yahoo tidak berupaya keras untuk menyelesaikan masalah itu tanpa melibatkan pengadilan. Digambarkan langkah Yahoo ini menimbulkan teka-teki. “Kami kecewa terhadap Yahoo, yang selama ini merupakan mitra bisnis Facebook dan sebuah perusahaan yang mendapatkan keuntungan dari asosiasinya dengan Facebook, dan memutuskan untuk menempuh jalur hukum,” tambahnya.
Sejarah berulang Kasus ini seperti ulangan dari keputusan Yahoo untuk menggugat Google menyusul penawaran saham perdana perusahaan tu pada 2004 lalu. Sengketa masalah hak paten itu dimenangkan Yahoo yang memperoleh sejumlah pembayaran.
Disebutkan Google melakukan penyelesaian kasus itu dengan menerbitkan 2,7 juta saham untuk saingannya. “Ini masuk akal bahwa Yahoo ingin mencoba taktik yang berhasil digunakan dimasa lalu,” kata analis teknologi di New York BGC Partner Colin Gillis kepada BBC. “Tetapi ada keputusasaan disana – tampaknya bahwa mereka akan men
dapatkan uang dengan mudah dari Facebook. Ini tidak akan menganggu IPO.”
Baru-baru ini Yahoo mengubah susunan pimpinannya, dan menunjuk Scott Thompson sebagai kepala eksekutif pada Januari lalu. Pendiri Yahoo, Jerry Yang, mengundurkan diri dari jajaran pimpinan pada Januari. Kepala perusahaan dan tiga direksi mengumumkan pengunduran diri mereka setelah itu.
The Wall Street Journal melaporkan bahwa banyak karyawan Yahoo diperkirakan akan menghadapi pemecatan menyusul penurunan keuntungan. Keputusan Thompson untuk menggugat kemungkinan akan mendatangkan dana segar atau aset lain jika pengadilan mengabulkan gugatan itu.
“Ini menarik karena pertama kalinya hak paten dipermasalahkan media sosial,” kata Andrea Matwyshyn, asisten profesor studi hukum Wharton School, University of Pennsylvania.
Kesimpulan :
Menurut pendapat saya , masalah yang dihadapi oleh yahoo sekarang seharusnya gaya kepemimpinannya harus diperbaiki jangan seperti yang dahulu karena kalau gaya kepemimpinan seperti yang dahulu akan memperburuk masalah. Kasus ini termasuk dalam model kepemimpinan vroom&yetton. Seharusnya gaya kepemimpinannya seperti yang ada dalam lima pola umum gaya kepemimpinan dalam pengambilan keputusan (Vroom & Yetton, 1973) yaitu yang:
• Consultative I: berbagi akan masalah yang ada dengan individu yang relevan, mengetahui ide-ide dan saran mereka tanpa melibatkan mereka ke dalam kelompok; lalu membuat keputusan.
• Group II: berbagi masalah yang ada dengan kelompok, mengepalai diskusi kelompok, serta menerima dan menerapkan keputusan apapun yang dibuat oleh kelompok.
Sumber:
http://id.shvoong.com/business-management/management/2134393-teori-atau-model-kontingensi-dan/#ixzz1sTvAkUVu
http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2009/11/teori-kepemimpinan-normative-vroom-yetton/
http://dwie-dwieblog.blogspot.com/2010/01/path-goal-teori-vroom-and-yetton.html
http://www.poskotanews.com/2012/03/14/yahoo-gugat-facebook/

