MUSIK ONE STOP


MusicPlaylistView Profile
Create a playlist at MixPod.com

ANALISIS ANTRIAN PEMBAYARAN REKENING LISTRIK DI KUD BEKASI JAYA

Diposting oleh Fitriana Setya

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang  Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari, setiap orang pernah mengalami yang namanya antrian. Antrian dimana seseorang harus menunggu giliran untuk mendapatkan jasa pelayanan. Antrian tersebut timbul karena banyaknya individu yang membutuhkan jasa pelayanan pada waktu yang bersamaan, sebagai akibatnya konsumen harus mengantri untuk menunggu giliran agar mendapatkan pelayanan

Antrian yang sangat panjang dan terlalu lama untuk mendapatkan giliran pelayan memang sangat menyebalkan dan membosankan serta dapat juga merugikan pelanggan baik dari segi waktu maupun dari segi biaya, oleh karena itu sistem antrian seharusnya dapat dirancang dengan lebih efisien dan seefektif mungkin. Sebenarnya sistem antrian ini dapat dirancang lebih cepat dan efisien dengan menggunakan teori antrian.

Dan pelayanan yang diberikan oleh suatu loket pembayaran harus dilakukan seefesien mungkin, karena apabila pelayanan terlalu lama, maka akan memerlukan ongkos yang besar, sebaliknya jika kapasitas pelayanan kurang maka akan terjadi penungguan dalam waktu yang cukup lama, yang akan menimbulkan akibat seperti berkurangnya jumlah pelanggan yang dateng, atau ketidak efisienan karyawan suatu loket pembayaran.

Sistem antrian di dalam kehidupan nyata akan dapat kita temui seperti antrian pada loket-loket bank, mobil-mobil yang mengantri di lampu merah, antrian nasabah bank, antrian pembayaran pajak kereta motor, antrian loket-loket pembayaran telepon, antrian para pengunjung taman hiburan, antrian pasien-pasien yang menunggu panggilan untuk mengambil obat di loket obat, antrian penonton pada gedung bioskop, antrian mobil-mobil di tempat pembayaran tol dan masih banyak lagi contoh lainnya.

KUD Bekasi Jaya merupakan  salah satu tempat pembayaran listrik yang cukup ramai di kelurahan Duren Jaya. KUD ini berkerjasama dengan PLN untuk melayani Pembayaran Listrik. Sistem antrian loket-loket pembayaran listrik sering terjadi dan kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari sangat banyak , masalah yang sering timbul adalah ketidaknyamanan para pelanggan karena harus menghabiskan waktu yang cukup lama untuk mengantri, maka dalam penulisan ilmiah ini penulis tertarik untuk membahas masalah antrian di Pembayaran Rekening Listrik. Dan berdasarkan uraian di atas maka penulis mengambil judul “ANALISIS ANTRIAN PEMBAYARAN REKENING LISTRIK DI KUD BEKASI JAYA”.

1.2  Rumusan Masalah dan batasan masalah
1.2.1        Rumusan Masalah
Adapun yang menjadi rumusan masalah dari penulisan ilmiah ini adalah :
1.      Bagaimana proses Antrian pada loket pembayaran rekening listrik di Perumnas Tiga dengan menggunakan metode Antrian Multi Channel - Single Phase pada hari kerja.
2.      Berapa jumlah loket yang harus di operasikan agar pelayanan dapat optimal.
1.2.2        Batasan Masalah
Batasan masalah pada penulisan ini adalah proses antrian yang terjadi pada pembayaran
rekening listrik yang terjadi pada pembayaran rekening listrik dengan menggunakan metode Multi Channel - Single Phase (model : M / M / I / F) yang di amati tanggal 15 April 2013 pada jam 08.00-12.00

1.3  Tujuan Penelitian
Adapun yang menjadi tujuan dari penulisan ilmiah ini adalah :
1.      Untuk menganalisis antrian yang terjadi pada loket pembayaran rekening listrik.
2.      Untuk menentukan jumlah loket yang harus di operasikan pada setiap hari kerja.

1.4  Manfaat Penelitian
1.4.1        Bagi Akademis
Dapat mengetahui bagaimana proses antrian yang terjadi pada pembayaran listrik di Perumnas Tiga dengan metode Multi Channel - Single Phase.
1.4.2        Bagi Peneliti
Hasil penulisan ini dapat digunakan ssebagai bahan pembanding dalam mengenai masalah-masalah sejenis.
1.4.3        Bagi Perusahaan
Dari hasil penulisan ini perusahaan dapat mengetahui bagaimana mengotimalisasikan pelayanan pembayaran rekening listrik.
1.5  Metodologi Penulisan
1.5.1        Objek Penelitian
Penelitian dilakukan padaloket pembayaran rekening listrik di KUD Bekasi Jaya yang berlokasi di jl. Flamboyan 6 Rt 09 Rw 15 No. 1 Kelurahan Duren Jaya,Bekasi Timur. Dalam hal ini yang menjadi objek penelitian adalah para pelanggan yang mengantri di loket Pembayaran Listrik.
1.5.2        Data/Variabel
Dalam penelitian ini variable yang diteliti adalah
1.      tingkat kedatangan.
Setiap masalah antrian melibatkan kedatangan. Unsur ini sering dinamakan proses input. Proses input meliputi sumber kedatangan atau biasa dinamakan calling population, dan cara terjadinya kedatangan yang umumnya merupakan variabel acak.
2.      waktu pelayanan.
Pelayan atau mekanisme pelayanan dapat terdiri dari satu atau lebih pelayan, atau satu atau lebih fasilitas pelayanan.
3.      jumlah konsumen.
Timbulnya antrian terutama tergantung dari sifat kedatangan dan proses pelayanan. Jika tidak ada antrian berarti terdapat pelayan yang menganggur atau kelebihan fasilitas pelayanan.
4.      jumlah fasilitas
fasilitas pelayanan dapat dilihat dari tiga hal, yaitu tata letak secara fisik dari sistem antrian, disiplin antrian, waktu pelayanan.

1.5.3 Metode Pengumpulan Data
Di dalam peyusunan penulisan ilmiah ini penulis memerlukan sumber-sumber data yang erat kaitannya dengan judul penulisan ini. Adapun metode penulisan yang digunakan adalah ssebagai berikut ini :
1.      Studi Pustaka
Teknik pengumpulan data di dapat dari referensi buku, dari internet dengan cara mendownload dan browsing.
2.      Studi lapangan
Wawancara yaitu dengan mendatangi dan mengajukan pertanyaan pada salah satu karyawan untuk mendapatkan data.
Observasi, dengan mendatangi obyek yang bersangkutan untuk mendapatkan data yang diperlukan.

1.5.4 Alat Analisis yang digunakan
Dalam perhitungan antrian ini alat analisis yang digunakan oleh penulis adalah analisisn kuantitatif yaitu dengan menggunakan metode Multi Channel Single Phase, yaitu suatu metode yang biasa digunakan untuk dua atau lebih fasilitas pelayanan (server) yang dialiri oleh antrian tunggal.
   Sistem Antrian
Keluar
 
 







Keterangan :
M = Antrian
S =  Fasilitas Pelayanan ( server )


bab 1

Diposting oleh Fitriana Setya



BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LatarBelakangMasalah
Dalamkehidupansehari-hari, setiap orang pernahmengalami yang namanyaantrian.Antriandimanaseseorangharusharusmenunggugiliranuntukmendapatkanjasapelayanan.Antriantersebuttimbulkaerenabanyaknyaindividu yang membutuhkanjasapelayananpadawaktu yang bersamaan, ebagaiakibatnyakonsumenharusmengantriuntukmenunggugiliran agar mendapatkanpelayanan.Antrian yang sangatpanjangdanterlalu lama sangatlahmembosankan, olehkarenaitu system antrianseharusnyadapatdirancangdenganlebihefisien.
Sistemantrian di dalamkehidupannyataakandapatkitatemuisepertiantrianpadaloket-loket bank, mobil-mobil yang mengantri di lampumerah, antriannasabah bank, antrianpembayaranpajakkereta motor, antrianloket-loketpembayarantelepon, antrianlokt-loketpembayarnlistrik, antrianparapengunjungtamanhiburan, antrianpasien-pasien yang menunggupanggilanuntukmengambilobat di loketobat, antrianpenontonpadagedungbioskop, antrianmobil-mobil di tempatpembayaran told an masihbanyaklagicontohlainnya. Beberapapenyimpangandalamrangkaiansistemantrianakandapatdihindariapabilamemahamidenganbenarteoriantrian, sehinggadesainpelayanan yang memadaiakandapatditerapkandengandasar yang kuatdanterpecaya.
Antrian yang sangatpanjangdanterlalu lama untukmendapatkangiliranpelayanmemangsangatmenyebalkandanmembosankansertadapatjugamerugikanpelangganaikdarisegiwaktumaupundarisegibiaya, olehkarenaitusistemantrianseharusnyadapatdirancangdenganlebihefisiendanseefektifmungkin.Sebenarnyasistemantrianinidapatdirancanglebihcepatdanefisiendenganmenggunakanteoriantrian.
Sistemantrian yang seringterjadidankitajumpaidalamkehidupansehari-harisangatbanyak, makadalampenulisanilmiahinipenulistertarikuntukmembahasmasalahantrian di PembayaranRekeningListrik.Dan berdasarkanuraian di atasmakapenulismengambiljudul “ANALISI ANTRIAN PMBAYARAN REKENING LISTRIK DI PERUMNAS TIGA KECAMATAN BEKASI TIMUR”.


1.2  RumusanMasalahdanbatasanmasalah
1.2.1        RumusanMasalah
Adapun yang menjadirumusanmasalahdaripenulisanilmiahiniadalah :
1.      Bagaimana proses Antrianpadaloketpembayaranrekeninglistrik di PerumnasTigadenganmenggunakanmetodeAntrianMulti Channel - SinglePhasepadaharikerja.
2.      Berapajumlahloket yang harus di operasikan agar pelayanandapat optimal.
1.2.2        BatasanMasalah
Batasanmasalahpadapenulisaniniadalah proses antrian yang terjadipadapembayaran
rekeninglistrikyang terjadipadapembayaranrekeninglistrikdenganmenggunakanmetodeMulti Channel - Single Phase di loketpembayaranrekeninglistrikselamasatuminggupadabulan April.

1.3  TujuanPenelitian
Adapun yang menjaditujuandaripenulisanilmiahiniadalah :
1.      Untukmenganalisisantrian yang terjadipadaloketpembayaranrekeninglistrik.
2.      Untukmenentukanjumlahloket yang harus di operasikanpadasetiapharikerja.

1.4  ManfaatPenelitian
1.4.1        BagiAkademis
Dapatmengetahuibagaimana proses antrian yang terjadipadapembayaranlistrik di PerumnasTigadenganmetodeMulti Channel - Single Phase.
1.4.2        BagiPeneliti
Hasilpenulisaninidapatdigunakansebagaibahanpembandingdalammengenaimasalah-masalahsejenis.
1.4.3        BagiPerusahaan
Dari hasilpenulisaniniperusahaandapatmengetahuibagaimanamengotimalisasikanpelayananpembayaranrekeninglistrik.




1.5  MetodologiPenulisan
1.5.1        ObjekPenelitian

PenelitiandilakukanpadaPuskesmasKecamatanPenjaringan yang berlokasi di Jl. Teluk
Gong Raya No.12 Jakarta Utara. Dalamhalini yangmenjadiobjekpenelitianadalahparapasien yang mengantri di loketpengambilanobatpadaPuskesmasKecamatanPenjaringan.

1.5.2        Data/Variabel
Dalampenelitianini variable yang ditelitiadalah
1.      tingkatkedatangan rata-rata pasien ().
2.      waktupelayanan rata-rata (1/).
3.      Rata-rata jumlahpelanggan (n).
4.      jumlahfasilitaspelayan (S).

1.5.3MetodePengumpulan Data
Di dalampeyusunanpenulisanilmiahinipenulismemerlukansumber-sumber data yang eratkaitannyadenganjudulpenulisanini.Adapunmetodepenulisan yang digunakanadalahsebagaiberikutini :
1.      StudiPustaka
Teknikpengumpulan data di dapatdarireferensibuku, dari internet dengancaramendownloaddan browsing.
2.      Studilapangan
Wawancarayaitudenganmendatangidanmengajukanpertanyaanpadasalahsatukaryawanuntukmendapatkan data.
Observasi,denganmendatangiobyek yang bersangkutanuntukmendapatkan data yang diperlukan.


                                                     

penalaran induktif

Diposting oleh Fitriana Setya

Pengertian Penalaran Induktif :
Menurut Tim Balai Pustaka (dalam Shofiah, 2007 : 14) istilah penalaran mengandung tiga pengertian, diantaranya :
1. Cara (hal) menggunakan nalar, pemikiran atau cara berpikir logis.
2. Hal mengembangkan atau mengendalikan sesuatu dengan nalar dan bukan dengan perasaan atau pengalaman.
3. Proses mental dalam mengembangkan atau mengendalikan pikiran dari beberapa fakta atau prinsip.
Sedangkan menurut Shurter dan Pierce (dalam Shofiah, 2007 : 14) penalaran induktif adalah cara menarik kesimpulan yang bersifat umum dari kasus-kasus yang bersifat khusus.
Lalu menurut Suriasumantri (dalam Shofiah, 2007 :15) penalaran induktif adalah suatu proses berpikir yang berupa penarikan kesimpulan yang umum atau dasar pengetahuan tentang hal-hal yang khusus. Artinya,dari fakta-fakta yang ada dapat ditarik suatu kesimpulan.
Kesimpulan umum yang diperoleh melalui suatu penalaran induktif ini bukan merupakan bukti. Hal tersebut dikarenakan aturan umum yang diperoleh dari pemeriksaan beberapa contoh khusus yang benar, belum tentu berlaku untuk semua kasus.
Contohnya dalam menggunakan preposisi spesifik seperti:
Es ini dingin. (atau: Semua es yang pernah kusentuh dingin.)
Bola biliar bergerak ketika didorong tongkat. (atau: Dari seratus bola biliar yang didorong tongkat, semuanya bergerak.)
Untuk membedakan preposisi umum seperti:
Semua es dingin.
Semua bola biliar bergerak ketika didorong tongkat.

Induksi kuat:
Semua burung gagak yang kulihat berwarna hitam.

Induksi lemah:
Aku selalu menggantung gambar dengan paku.
Banyak denda mengebut diberikan pada remaja.
Penalaran induktif dimulai dengan pengamatan khusus yang diyakini sebagai model yang menunjukkan suatu kebenaran atau prinsip yang dianggap dapat berlaku secara umum.
Perbedaan dari penalaran deduktif dan induktif adalah, penalaran deduktif memberlakukan prinsip-prinsip umum untuk mencapai kesimpulan-kesimpulan yang spesifik, sementara penalaran induktif menguji informasi yang spesifik, yang mungkin berupa banyak potongan informasi yang spesifik, untuk menarik suatu kesimpulan umum.
Aspek dari penalaran induktif dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pargaraf generalisasi, analogi dan kalusal.
1.     Generalisasi yaitu proses penalaran berdasarkan pengamatan atas sejumlah gejala dengan sifat-sifat tertentu mengenai semua atau sebagaian dari gejala serupa. Dari sejumlah fakta atau gejala khusus yang diamati ditarik kesimpulan umum tentang sebagian atau seluruh gejala yang diamati itu. Proses penarikan kesimpulan yang dilakukan dengan cara itu disebut dengan generalisasi. Jadi, generalisasi adalah pernyataan yang berlaku umum untuk semua atau sebagian gejala yang diamati. Karena itu suatu generalisasi mencakup ciri-ciri esensial atau yang menonjol, bukan rincian. Di dalam pengembangan karangan, generalisasi perlu ditunjang atau dibuktikan dengan fakta-fakta, contoh-contoh, data statistik, dan sebagainya yang merupakan spesifikasi atau ciri khusus sebagai penjelasan lebih lanjut.
Contoh :
Hasil UTS mata pelajaran Bahasa Indonesia untuk kelas 3EA19 telah keluar. Ternyata dari 53 mahasiswa hanya 20 orang yang mendapat nilai 95. Setengahnya mendapat nilai antara 70 – 90 dan tidak ada seorang pun yang mendapat nilai di bawah 70. Itu berarti dapat disimpulkan bahwa mahasiswa kelas 3EA19 cukup pintar dalam mengerjakan soal Bahasa Indonesia.
Generalisasi dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1.      Generalisasi dengan loncatan induktif.
Generalisasi dengan loncatan Induktif adalah generalisasi dimana kesimpulan diambil dari sebagian fenomena yang diselidiki diterapkan juga untuk semua fenomena yang belum diselidiki. Contoh : Hampir seluruh remaja di Indonesia sudah menggunakan handphone Blackberry dan Android
2.      Generalisasi tanpa loncatan induktif.
Generalisasi tanpa loncatan induktif adalah generalisasi dimana seluruh fenomena yang menjadi dasar penyimpulan diselidiki. Contoh : sensus penduduk.

2. Analogi
Analogi yaitu proses membandingkan dari dua hal yang berlainan berdasarkan kesamaannya kemudian berdasarkan kesamaannya itu ditarik suatu kesimpulan. Kesimpulan yang diambil dengan analogi, yaitu kesimpulan dari pendapat khusus dengan beberapa pendapat khusus yang lain, dengan cara membandingkan kondisinya.
Tujuan Analogi
             - Meramalkan kesamaan
           - Menyingkap kekeliruan
           - Menyusun sebuah klasifikasi
Contoh :
 Kita banyak tertarik dengan planet Mars, karena banyak persamaannya dengan bumi kita. Mars dan Bumi menjadi anggota tata surya yang sama. Mars mempunyai atsmosfir seperti Bumi. Temperaturnya hampir sama dengan Bumi. Unsur air dan oksigennya juga ada. Caranya mengelilingi matahari menyebabkan pula timbulanya musim seperti di Bumi. Jika di Bumi ada makhluk. Tidaklah mungkin ada mahluk hidup di planet Mars.
            Jenis-jenis analogi :
1.      Analogi induktif.
Analogi induktif, yaitu analogi yang disusun berdasarkan persamaan yang ada pada dua fenomena, kemudian ditarik kesimpulan bahwa apa yang ada pada fenomena pertama terjadi juga pada fenomena kedua. Analogi induktif merupakan suatu metode yang sangat bermanfaat untuk membuat suatu kesimpulan yang dapat diterima berdasarkan pada persamaan yang terbukti terdapat pada dua barang khusus yang diperbandingkan.
Contoh : Nindy terpaksa di cutikan dari Universitas Gunadarma karena terlambat mengisi KRS. Tria juga akan di cutikan dari Universitas Gunadarma jika dia terlambat mengisi KRS.
2.      Analogi deklaratif.
Analogi deklaratif merupakan metode untuk menjelaskan atau menegaskan sesuatu yang belum dikenal atau masih samar, dengan sesuatu yang sudah dikenal. Cara ini sangat bermanfaat karena ide-ide baru menjadi dikenal atau dapat diterima apabila dihubungkan dengan hal-hal yang sudah kita ketahui atau kita percayai. Contoh : metode pengajaran yang diberikan oleh dosen kepada mahasiswanya haruslah memiliki waktu yang efektif. Pemberian materi kepada mahasiswa sebaiknya sesuai dengan kapasitas mahasiswa sejauh mana mahasiswa dapat menampung materi yang diberikan. Sama halnya dengan ember yang terus menerus diisi air, pada akhirnya akan tumpah juga jika terus menerus diisi dengan air.
3. Hubungan kausal yaitu Penalaran induktif dengan melalui hubungan kausal (sebab akibat) merupakan penalaran yang bertolak dari hukum kausalitas bahwa semua peristiwa yang terjadi di dunia ini terjadi dalam rangkaian sebab akibat. Tak ada suatu gejala atau kejadian pun yang muncul tanpa penyebab.
Cara berpikir seperti itu sebenarnya lazim digunakan dalam kehidupan sehari-hari, seperti halnya dalam dunia ilmu pengetahuan. Contoh : Sheily membawa paying ketika akan pergi ke kampus, karena cuaca mendung (sebab) dan akan segera turun hujan (akibat)

Contoh :
Jika dipanaskan, tembaga memuai.
Jika dipanaskan emas memuai

Macam – macam hubungan kausal :
·         a. Sebab - akibat
Contoh :
Sejumlah pengusaha angkutan di Bekasi terpaksa gulung tikar karena pendapatan yang mereka peroleh tidak bisa menutup biaya operasional. Minimnya pendapatan karena sebagian besar penumpang membayar ongkos dibawah ketentuan tarif yang sudah ditetapkan, akibat ketidakmampuan ekonomi.
·         b. Akibat -sebab
Contoh :
Andi mendapat nilai yang memuaskan pada ujian semester kenaikan kelas. Dia mendapat rangking pertama di kelasnya. Hasil yang diperoleh Andi ini dia dapatkan karena belajar yang sangat tekun setiap harinya.
·         c Akibat – akibat
Contoh :
Kemarin Lusi mengalami kecelakaan akibat menabrak pembatas jalan. Akibat dari kecelakaan tersebut dia mengalami patah kaki dan harus dirawat di rumah sakit.

Sumber : www.google.com
 pen

Pengaruh Situasi Konsumen

Diposting oleh Fitriana Setya


PENGERTIAN SITUASI
Faktor situasional adalah kondisi sesaat yang muncul pada tempat dan waktu tertentu
Kemunculanya terpisah dari diri produk maupun konsumen ( Asseal , 1998 ).
Sedangkan menurut belik ( 1975 ) , mendifinisikan situasi sebagai semua faktor yang utama terhadap tmpat dan situasi yang tidak menurut pengetahuan seseorang ( intra individu ) dan stimulasi ( alternative pilihan ) dan memiliki bukti dan pengaruh sistimatis pada prilaku saat itu .
Lain halnya dengan wilkie ( 1990 ) . pengaruh situasional adalah kekuatan sesaat yg tidak berasal dari dalam diri seseorang atau berasal dari produk atau merek yang di pasarkan , penelitian telah menemukan bahwa faktor situasional mempengaruhi pilihan konsumen dengan mengubah kemungkinan pemilihan berbagai alternative ( kolm,Monroe,dan Glazer, 1987, dalam titus dan Ernett, 1996 ) .


      FAKTOR – FAKTOR SITUASI KONSUMEN
Pengaruh situasional dalam konsumen adalah faktor personal dan lingkungan sementara yang muncul pada saat aktifitas konsumen , sehingga situasi konsumen meliputi faktor-faktor seperti :
Melibatkan waktu dan tempat dalam mana aktifitas konsumen terjadi ,
Mempengaruhi tindakan konsumen sperti prilaku pembelian , dan
Tidak termasuk karakteristik personal yang berlaku dalam jangka panjang. Stuasi konsumen relative merupakan kejadian jangka pendek dan harus dibedakan dengan lingkungan makro atau faktor-faktor personal yang memiliki jangka waktu lama .
Secara garis besar jenis/tipe situasi konsumen dibagi menjadi 3 sesuai dengan waktu kegunaannya yaitu :

1. Situasi Komunikasi

2. Situasi Pembelian
3. Situasi Pemakaian

Situasi Komunikasi

Situasi Komunikasi adalah suasana atau lingkungan dimana konsumen memperoleh informasi atau melakukan komunikasi. Komunikasi yg dilakukan bisa bersifat pribadi atau nonpribadi
Konsumen mungkin memperoleh informasi melalui :
1. Komunikasi Lisan dengan teman, kerabat, tenaga penjual, atau wiraniaga
2. Komunikasi non pribadi, seperti iklan TV, radio, internet, koran, majalah, poster, billboard, brosur, leaflet dsb
3. Informasi diperoleh langsung dari toko melalui promosi.
Situasi Pembelian

Situasi Pembelian adalah lingkungan atau suasana yang dialami/dihadapi konsumen ketika membeli produk dan jasa. Situasi pembelian akan mempengaruhi pembelian.

Misal: Ketika Konsumen berada di bandara, ia mungkin akan bersedia membayar sekaleng Coke berapa saja harganya ketika haus. Sebaliknya, jika ia berbelanja Coke di swalayan dan mendapatkan harganya relatif lebih mahal, ia mungkin sangat sensitif terhadap harga. Konsumen tsb mungkin akan menunda pembelian Coke dan mencari di tempat lain
Situasi pembelian mengacu pada latar dimana konsumen memperoleh produk dan jasa. Pengaruh situasi sangat lazim selama pembelian. Sebagai contoh yang sederhana, pertimbangan perubahan hebat dalam kepekaan konsumen akan harga dimana situasi pembelian. Penjual makanan akan merasa sangat sulit untuk membebankan harga yang dibayar konsumen untuk soda dan jajanan dibioskop atau stadion baseball. Pengaruh situasi dapat diwujudkan diri dalam bermacam jenis cala selam situasi pembelian, beberapa bentuk utama dideskripsikan berikut ini.
•         Lingkungan informasi mengacu pada keseluruhan jajaran data yang berkaitan dengan produk yang tersedia bagi konsumen. Sifat lingkungan informasi akan menjadi determinan penting dari perilaku pasar ketika konsumen terlibat didalam semacam bentuk pengambilan keputusan non kebiasaan. Sebagian dari karakteristik lingkungan yang utama mencakupi ketersediaan informasi, jumlah beban informasi, dan cara dimana informasi disajikan dan diorganisasikan.
•          Kesediaan informasi sangat penting. Tidak adanya informasi mengenai kinerja dari merek yang bersaing mengenai beberapa sifat akan menghalangi pemakaian informasi tersebut selama pengambilan keputusan. Ketersediaan informasi kadang akan bergantung kepada kemampuan konsumen mendapatkan kembali informasi dari ingatan.
•         Beban informasi dari lingkungan pilihan ditentukan oleh jumlah alternative pilihan dan jumlah sifat peralternatif, kenaikan dalam jumlah alternative pilihan mengubah jenis kaidah keputusan yang digunakan konsumen selama mengambil keputusan.
•          Format informasi yaitu cara dimana informasi disusun. Dapat pula memperngaruhi perilaku konsumen. Pemakaian informasi harga satuan ini oleh konsumen mungkin bergantung kepada bagaimana informasi itu disusun.
•         Bentuk informasi adalah penilaian produk numeris, memungkinkan konsumen mentaksir dengan lebih mudah perbedaan diatantara banyak produk. Sebagai akibatnya, konsumen lebih cenderung membandingkan merek atas dasar sifat demi sifat ketika informasi merek disajikan dalam bentuk numeris ketimbang semantic.
•         Lingkungan eceran adalah sifat fisik dari lingkungan eceran, kerap kali diacu sebagai store atmospherics, sangat menarik bagi para pemasar karena dua alasan mendasar. Pertama, berbeda dengan banyak pengaruh situasi yang berbeda di luar kendali. Kedua, pengaruh ini dibidikan kepada konsumen tepat ditempat yang benar didalam toko.
•         Musik adalah konsumen akan merasa nyaman jika membeli dengan adanya musik karena membuat semangat para pembeli semakin meningkat. Dan banyak yang dating untuk kembalinlagi ke toko mereka.
•         Tata ruang dan lokasi didalam toko dapat digunakan untuk meningkatkan kemungkinan konsumen mengadakan kontak dengan produk.
•         Warna adalah sumber pengaruh yang potensial pada persepsi maupun perilaku konsumen. Warna yang hangat, seperti merah dan kuning, tampak lebih efektif pada orang yang menarik fisik, dibandingkan dengan warna yang lebih sejuk seperti hijau dan biru.
•         Bahan POP ( point-of-purchase ) atau bahan di tempat penjualan dapt berfungsi sebagai stimulus yang sangat kuat. Peragaan dan tanda dapat meningkatkan kemungkinan menarik perhatian konsumen.
•         Wiraniaga adalalah potensi untuk memperngaruhi konsumen selama berbelanja dapat dipengaruhi secara kuat oleh staf garis depan pengecer.
•         Kesesakan adalah aspek luar dari latar eceran yang mungkin memperngaruhi perilaku berbelanja adalah tingkat kesesakan yang dirasakan yang disebabkan oleh kepadatan orang yang berbelanja didalam toko.
•         Pengaruh waktu adalah dimana situasi ini berlaku pada permintaan akan banyak produk saat musim tiba.


Situasi Pemakaian

Misal: Konsumen Muslim sering memakai kopiah dan pakaian takwa pada saat sholat atau pada acara keagamaan. Kebaya akan dipakai kaum wanita pada acara pernikahan atau acara resmi lainya, dan jarang digunakan untuk pergi bekerja. Para Produsen sering menggunakan konsep situasi pemakaian dalam memasarkan produknya, produk sering diposisikan sebagai produk untuk digunakan pada situasi pemakaian tertentu. Misalnya, ada pakaian resmi untuk ke pesta, pakaian olahraga, pakaian untuk kerja, pakaian untuk santai dan berolahraga.

Tahap-tahap proses pembelian, yaitu
1.      Pengenalan Masalah
Proses membeli diawali saat pembeli menyadari adanya masalah kebutuhan. Pembeli menyadari terdapat perbedaan antara kondisi sesungguhnya dengan kondisi yang diinginkannya. Kebutuhan ini dapat disebabkan oleh rangsangan eksternal ataupun internal.
2.      Pencarian Informasi
Proses mencari informasi secara aktif dimana konsumen mencari bahan-bahan bacaan, menelpon teman-temannya, dan melakukan kegiatan mencari-cari untuk mengetahui tentang suatu barang dan jasa. Secara umum, konsumen menerima informasi terbanyak dari suatu produk dari sumber-sumber komersial, yaitu sumber-sumber yang didominasi oleh para pemasar. Pada sisi lain, informasi yang paling efektif justru berasal dari sumber-sumber pribadi.
3.      Evaluasi Alternatif
Kebanyakan model dari proses evaluasi konsumen sekarang bersifat kognitif, yaitu mereka memandang konsumen sebagai pembentuk penilaian terhadap produk terutama berdasarkan pada pertimbangan yang rasional.
4.      Keputusan Pembelian
Faktor yang akan mempengaruhi keputusan pembalian adalah sikap orang lain (sejauh mana sikap orang lain akan mengurangi alternatif pilihan seseorang), tujuan pembelian, persepsi seseorang terhadap barang dan jasa, dan faktor sosial serta budaya.
5.      Perilaku Pasca Pembelian
Setelah pembelian suatu produk, konsumen akan mengalami beberapa tingkat kepuasan atau ketidakpuasan. Jika konsumen marasa puas maka ia akan memperlihatkan kemungkinan yang lebih tinggi untuk membeli produk itu kembali. Namun, apabila konsumen tidak puas maka ia akan mengurangi ketidakcocokkannya dengan meninggalkan atau mengembalikanproduk tersebut atau mereka mungkin akan mencari informasi yang mungkin mengkonfirmasikan produk tersebut menjadi bernilai tinggi.

INTERAKSI ORANG – SITUASI
Situasi konsumen meningkat bila selang waktu sejak saat makan mereka bertambah. Muncul untuk konsumen yang kelebihan berat. Dengan demikian, pengaruh situasi dari waktu sejak saat makan mereka yang terkhir bergantung kepada jenis konsumen.
Ide bahwa konsumen tidak homogen dalam respons mereka terhadap factor situasi memilki implikasi penting untuk pemasangan pasar. Karena konsumen yang berbeda mungkin mencari mafaat produk yang berbeda, yang dapat berubah melintasi situasi pemakaian yang berbeda.

PENGARUH SITUASI YANG TAK TERDUGA.

Pemasar kadang bertanya kepada konsumen tearget mengenai maksud pembelian mereka untuk meramalkan permintaan produk pada masa datang. Walaupun maksud pembelian dapat bersifat prediktif mengenai perilaku masa dating, satu ancaman besar terhadap daya persfektif mereka adalah gangguan yang disebabkan oleh pengaruh situasi yang tak terduga. Sebagai contoh. Seorang konsumen mungkinsepenuhnya mengantisipasikan pembelian merek kripikj kentang tertentu selama kunjungan yang berikutnya ke toko makanan.
Namun, maksud pembelian ini mungkin tidak terpenuhi bila produk tersebut habis atau bila ada merek lain dengan kualitassama dijual disana. Sebaliknya, seorang konsumen mungkin tidak berminat untuk membeli berikunya mungkin terjadi karena semacam kejadian yang tidak diantisipasikan ( misalnya, orang yang bukan peminum kopi membeli kopi untuk orang tuanya yang suka minum kopi ).

Sumber : 

http://zanbakhu.blogspot.com/2011/12/perilaku-konsumen-pengaruh-situasi.html
http://samuelsugara.blogspot.com/2012/05/perilaku-konsumen-pengaruh-situasi.html